Jumat, 03 Februari 2012

My Cerpen : Bidadari Senja



Senja masih mengiblatkan perak cahayanya,berkejap-kejap dilangit yang juga masih dihiasi kilauan pelangi. Aku menyeka peluh dan air mataku. Aku ingin tersenyum untukmu Ami. Senyum paling ikhlas yang pernah aku miliki. Senyum kekaguman dan rasa iri yang mendetam-dentam. Tapi apakah kau bisa mendengarnya? Tentu saja aku tau disana kau tengah tersenyum indah seperti bidadari senja yang anggun disisiNya. Kenapa kau begitu anggun Ami? Seperti Cinderella lengkap dengan sepatu kaca yang berkilau. Kau juga cantik,matamu indah bagaikan bintang yang takkan hilang kerlipnya. Hidungmu mancung. Seperti “bule-bule” yang pernah aku lihat saat aku pergi ke Bali. Wajahmu seperi bulan. Sempurna. Kamu pun begitu baik. Seperti ibu peri Cinderella yang didongeng. Aku memang pernah sempat iri kepadamu Ami .
          Ami,mengingatmu dalam getaran lara yang tercabik-cabik nurani. Aku masih terpaku pada kepedihan yang manusiawi. Ku tegakkan kepalaku kendati terasa berat,hendak meninggalkan pusaramu yang anggun merah basah. Aku ikhlas. Disenja ini aku kehilangan kakak sepertimu.


&&&&&&
         “Maafkan ibu Nak”,suara ibu terdengar bergetar,seperti menyimpan duka dan penyesalan yang dalam.
        Aku memandang wajah ibuku yang cantik,perempuan dengan wajah lembut keibuan,garis wajahnya memerlihatkan gurat kesedihan. Matahariku itu tampak redup cahayanya. Aku berjalan menghampiri dan memeluknya erat.
“Aku sangat mengerti bu,mungkin aku akan bersikap sama seperti ibu bila ada diposisi ibu”,air mataku berlinang,jatuh menetes dipundak ibuku yang tegak dan kokoh.
“Aku kekamar ya bu?”,melepaskan pelukan ibuku dan berlari kekamar.
Aku ingin menangis sejadi-jadinya dibantal pemberian Ami saat ulang tahunku yang ke 16 kemarin. Aku ulang tahun bersamaan dengan Ami,ditanggal yang sama,hanya berbeda beberapa menit. Ami lebih dulu menghirup udara pengap ruang operasi,sedangkan aku masih harus bergelut dengan tangan para dokter yang ingin mengangkatku dari perut ibuku. Aku dan Ami memang saudara kembar. Tapi aku merasa Ami lebih cantik dariku,lebih pintar,lebih mendapat perhatian dari ayah dan ibuku,lebih disukai teman-teman. Mungkin karena Ami lebih ramah dan suka tersenyum. Aku iri.


Saat di rumah Ami selalu dimanja oleh ayah dan ibu . Aku selalu dinomor duakan. Padahal,Ami kakakku. Seharusnya aku yang lebih dimanja. Tapi aku ingat kekurangan Ami. Dia lemah,tidak tahan panas,tidah kuat lama-lama berjalan. Berbeda sekali dengan daya tahan tubuhku yang kuat.
Pernah aku sekali melihat hidung Ami mengeluarkan darah. Tapi ibu bilang dia hanya mimisan biasa.
&&&&&&
”Ibu,aku mau dibelikan laptop”,nada suaraku merengek.
”Loh,tapikan di rumah sudah ada komputer Umi,jadi untuk apa membeli laptop lagi”,balas ibuku dengan suara lembutnya.
”Tapi bu,komputer itu sering sekali error bu,membuatku jengkel memakainya”,sambil mendekat manja ke ibuku.
”Iya ibu,Umi benar,komputer di rumah sering sekali error,sebenarnya Ami juga ingin laptop baru.Belikan saja bu, toh aku bisa memakainya bersama-sama dengan Umi”,suara Ami lembut sekali menengahiku dengan ibu.
”Baiklah sayang,nanti ibu bicarakan dengan ayah”
Aku menatap Ami. Ami tersenyum lembut kepadaku. Cantik. Tapi,aku balas dengan raut muka jengkelku sambil berlalu ke kamar.,
”kenapa sih,kalau Ami yang minta selalu langsung diiyakan oleh ibu”,jeritku dalam hati. 
&&&&&&         
 Pengap rumah sakit menyelimuti nafasku. Terengah-engah setengah berlari,aku menuju kamar VIP Flamboyan no.17.
Beberapa jam yang lalu ibu menelponku,menyuruhku izin pulang sekolah untuk kerumah sakit. Ami sakit. Tadi pagi Ami memang tidak berangkat sekolah bersamaku. Dia merasa tidak enak badan.


Terburu buru ku ayunkan langkah kakiku , tak ku perhatikan papan board “awas licin” disebrang, sehingga aku pun terpeleset jatuh tersungkur . orang orang melihat ku sambil menahan tawa . mukaku merah padam .
“siapa sih yang ngepel lantai , bego gak dikeringin dulu”,makiku dalam hati.
Aku berjalan menyusuri tangga,tiba-tiba dadaku sakit sekali,serasa ditikam beribu-ribu belati,badanku lemas,aku mempercepat langkahku,tak ku pedulikan orang-orang disekitarku yang tertabrak.


Aku tiba di kamar VIP flamboyan no.17. Terdengar sayup-sayup suara isakan tangis ayah dan ibu. Ku buka pintu perlahan agar tidak menimbulkan suara berdencit.
Aku melihat Ami terbujur kaku,tidak bergerak. Menimbulkan berbagai pertanyaan bersarang diotakku.


”Ibu,ada apa ini? Ayah kenapa menangis? Ami kenapa ayah ? dia sakit apa ?”,bertubi-tubi pertanyaan ku lontarkan sambil menahan ar mataku.
Ibu berhambur memelukku,erat sekali.Tidak pernah ibu sebelumnya memelukku seerat ini. Membuatku semakin bingung.
”Nak,kakakmu sudah meninggal. Ami menderita sakit Leukimia. Maaf ayah dan ibu menyembunyikannya selama ini darimu”,suara ayah bergetar sambil menangis.
Tubuhku serasa tersengat kalajengking mendengarnya,pantas saja tadi tubuhku serasa sakit luar biasa. Ikatan batinku begitu kuat.
Dengan tenaga yang masih tersisa,aku menubruk tubuh yang terbujur di tempat tidur. Kemudian aku menenggelamkan mukaku didada saudara kembarku yang sudah dingin membeku.
”Aku tak percaya secepat ini kau meninggalkanku Ami”
”Pantas saja selama ini ibu dan ayah selalu menuruti kemauanmu mi. Seandainya aku tahu,semua keinginanmu pun akan aku penuhi”,jeritku dalam hati
”Maaf selama ini aku belum bisa menjadi saudara yang baik untukmu Ami”

&&&&&&

Kulihat senja yang semakin melintas,merenang menuju malam. Disenja ini kulihat bayang-bayang bidadari surga bermahkota berlian dan berselendang aneka warna. Kau..........adalah satu dari Bidadari itu Ami.

0 Bacotan:

Posting Komentar

hey , no SARA oke :)