Mengenalmu sejak masih kecil.
Bagai potongan film yang diputar dengan proyektor saya mengamati pertumbuhanmu.
Dari balita gendut yang selalu diancam dengan kata "ditangkap polisi" agar mau makan,
hingga jadi siswa bermasalah yang harus berpindah-pindah sekolah.
Saya tahu semua cerita tentang hidupmu,Mas.
Saya tahu bahwa ada jiwa pemberontak yang sulit dijinakkan di dasar hatimu.
Tidak ada yang bisa menyalahkanmu karena kami mengerti tekanan yang diberikan ayahmu.
Kamu dibesarkan dengan didikan yang keras dan sesungguhnya tidak layak.
Kami semua paham sekali bahwa tidak begitu gampang untuk tumbuh menjadi remaja normal dengan lingkungan yang sedemikian rupa.
Hanya ada dua pilihan yg dihadapkan pd remaja yg dibesarkan dgn tangan besi dan kondisi rumah yang dingin:
1. Termotivasi untuk menjadi pribadi yang lebih baik
2. Memberontak dengan tujuan balas dendam
Dan tampaknya kamu memilih opsi nomer dua,Mas.
Kamu memilih melampiaskan semua amarahmu yg tertahan selama bertahun-tahun dengan bertingkah ugal-ugalan di luar rumah.
Melawan semua orang,karena satu2nya sosok yg kau segani hanya ayahmu.
Kamu jadi berhati batu dan membuang jauh rasa empati.
Kami harus terbiasa menerima cibiranmu untuk setiap nasehat yang terucap.
Bahkan saat kamu memutuskan untuk menghentikan studimu,
kami sudah habis akal untuk mencegahmu.
Sekarang kamu sudah berumur 21 tahun,Mas.
Bukan remaja yang jiwanya labil dan meledak-ledak gairahnya
Kamu seharusnya sudah harus tahu tentang "pilihan" yang kita punya atas hidup kita.
Berhenti menyalahkan sekitarmu dan jadikanlah semua masa lalumu sebagai contoh buruk untuk masa depanmu.
Kamu mungkin sadar sekali bahwa saya adalah satu-satunya dari puluhan sepupumu yang memilih untuk mendiamkanmu.
Saya diam karena saya tahu tidak ada gunanya berbicara denganmu.
Saya jengah bahkan ketika percakapan kita seharusnya jadi percakapan yang kasual.
Sepertinya jiwa egosentrismu semakin besar dan besar setiap kali kita berjumpa.
Kamu tahu saya selalu berusaha menghindari konflik,
dan saya tidak mau membencimu untuk setiap ucapan yang terlontar.
Itu sebabnya saya memilih untuk menutup diri padamu,Mas.
Hingga detik ini,
Saya berharap bisa berhenti bersikap "bisu" terhadapmu.
Saya rindu jiwa polos masa kecilmu yang dulu.
Saya ingin memberikan kehangatan seorang adik yang dulu pernah kamu terima.
Saya ingin bisa.
Tolong yakinkan saya bahwa kesempatan ini tidak akan sia-sia,Mas
...You can say that you don't miss me...
0 Bacotan:
Posting Komentar
hey , no SARA oke :)