Jumat, 24 Februari 2012

YEAH , STANDING STILL :)


Masih berdiri di tembok yang sama.
Dengan senyum yang terkembang lebar dan hati yang penuh nyaman.
Masih menikmati semilir angin yang berlomba-lomba menampar helai demi helai rambut saya.
Terkadang masih sulit percaya bagaimana "berdua denganmu" bisa jadi "sebahagia" ini.
Seolah-olah batu besar yang selama ini menghimpit akal sehat digulingkan jauh-jauh.
Rasanya lega luar biasa.
Perasaan ini, 
mahal harganya.

Sayup-sayup terdengar suara yang memanggil-manggil dengan lembut.
Intonasinya rendah dan persuasif.
Sumbernya dari bawah sana.
Naluri saya berbisik untuk mengabaikan.
Tapi gaungnya terus berulang.
Bukan suara dia.
Bukan suara bass yang biasa.
Ini bariton yang asing di telinga.
Saya tidak bergeming sedikitpun dari posisi semula.
Suara itu terus menerus memanggil nama saya tanpa henti.
" Turun ke sini.." katanya
Saya diam.
" Hey, turun ke sini. Apa yang kamu lakukan seorang diri di ketinggian seperti itu?"
Saya diam.
" Baiklah, saya yang akan naik ke atas kalau begitu"
Saya tersentak dan melempar pandangan ke sumber suara.
Dan di situlah saya menangkap sesosok tubuh pria yang menengadahkan kepalanya ke arah saya.
" Jangan naik ke sini. Saya tidak mengizinkan. Ini tembok saya" sahut saya ketus.
Dia tersenyum tipis dan berkata : " Baiklah. Kalau begitu, turunlah ke sini. Saya akan membantumu turun"
" Kenapa saya harus turun? Saya suka berada di atas sini. Rasanya nyaman. Di bawah terlalu ramai. Bising. Pengap. Saya tidak suka. Saya suka di sini"
" Ada banyak tempat yang indah di bawah sini. Yang ramai namun menenangkan. Yang bising namun menghibur. Yang panas namun tidak menyiksamu. Sini, saya tunjukkan "
" Saya tidak mau. Saya bahkan tidak mengenalmu. Apa jaminannya bahwa di bawah sana saya bisa sebahagia ini? "
" Itulah sebabnya saya mengajakmu turun. Supaya kita bisa berkenalan lagi lebih jauh. Tidak di batasi jarak yang tidak kamu izinkan untuk saya lintasi. Jaminan atas kepercayaan, hanya Tuhan yang paling tahu"

Saya diam lagi.
Namun kali ini karena berpikir.
Bukan mengabaikan.
Karena untuk percaya pada manusia, 
sudah sangat susah rasanya.

" Bagaimana? Mau kan? " 
" TIDAK ! "
" kenapa tidak mau? "
" saya sudah bahagia berada disini "
Dia mengembangkan senyum arif dan berkata lagi :
" Baiklah. Jika kamu tidak mau saya ajak pergi dari situ , semoga bahagia ya diatas sana? "
Saya menganggukkan kepala dan tersenyum.

Untuk sekarang, biarkan saya tetap berdiri di atas tembok ini.
Bersama dengannya.
tidak mau ada pengganggu :)

0 Bacotan:

Posting Komentar

hey , no SARA oke :)